Monday, 6 April 2015
Cerita Kucing Tuan : Kak Chah
Kak Chah yang lincah pun sudah pergi buat selama-lamanya jangkitan virus cirit birit... Sesalan yang tak sudah...
Cerita Rambut Tuan Kucing
2 minggu lepas aku gunting rambut sendiri ... sebabnya rasa tak berbaloi dengan harga gunting kat kedai. Nak gunting potong lurus biasa-biasa je. Ambik cermin dan gunting. Berdiri di hadapan cermin lepas tu terus gunting dengan yakinnya. Hasilnya not bad la untuk rambut potongan biasa, bukan ada fesyen apa-apa pun. Gunting rambut pun sebab nak mengelakkan rambut gugur dengan banyaknya. Suami kata ok je tak nampak cacat sangat rambutnya maka ok la tu. Jimat duit RM20.00. Hihihihi.
Wednesday, 1 April 2015
Cerita Duit Tuan Kucing
Sekarang ni aku nak kena berjimat. Matlamatnya nak berbelanja cuma RM5.00 sehari untuk makanan. Tak mau lebih dari jumlah itu. (Walau berkemampuan), tapi dek kerana GST dan kenaikan harga semua barang, terfikir bagaimana lah keadaan orang miskin membuat catuan mereka dengan kenaikan semua ini. Sekarang ni akan selalu bawak bekal sama ada untuk sarapan atau makan tengahari. Bawak lah apa saja macam roti ke, spageti ke, telor rebus ke, asalkan ada bekal. Yang penting kena minum air putih banyak-banyak. Alhamdulillah
Tuesday, 31 March 2015
Cerita Laut Tuan Kucing
Lirik Lagu Kembara - Impian Seorang Nelayan
Burung camar hinggap di jejari
Seorang nelayan sedang bermimpi
Mimpi tentang duyung...Mimpi tentang untung
Bibit hanyut dibawa ombak Laut China Selatan
Dalam mimpi berkata sang duyung
Wahai nelayan kau anak laut
Di sini tempatmu di sini rezekimu
Pengorbanan yang kau lakukan...Ada balasannya
Mega mendung...Laut pun bergoncang
Nelayan tersentak hidup sesat haluan
Sang mentari terlindung...Pantai tak kelihatan
Tawar kau jalan akhirnya...
Dalam pondok kecil beratap rumbia
Seorang ibu memandang hari muka
Sambil ia menyusukan bayi yang kehausan
Ufuk timur hilang dari pandangan
Wahai anak yang sedang menangis
Mungkin kini engkau tak mengerti
Bila kau dewasa dan pandai nanti
Pengorbanan ayahmu sayang jangan kau lupakan
Burung camar hinggap di jejari
Seorang nelayan sedang bermimpi
Mimpi tentang duyung...Mimpi tentang untung
Bibit hanyut dibawa ombak Laut China Selatan
Dalam mimpi berkata sang duyung
Wahai nelayan kau anak laut
Di sini tempatmu di sini rezekimu
Pengorbanan yang kau lakukan...Ada balasannya
Mega mendung...Laut pun bergoncang
Nelayan tersentak hidup sesat haluan
Sang mentari terlindung...Pantai tak kelihatan
Tawar kau jalan akhirnya...
Dalam pondok kecil beratap rumbia
Seorang ibu memandang hari muka
Sambil ia menyusukan bayi yang kehausan
Ufuk timur hilang dari pandangan
Wahai anak yang sedang menangis
Mungkin kini engkau tak mengerti
Bila kau dewasa dan pandai nanti
Pengorbanan ayahmu sayang jangan kau lupakan
Cerita Kucing Tuan 1
Belacan masih belum balik... Tidak tahu ke mana... Tapi rasanya masih berkeliaran di taman ini. Agaknya dia masih belum puas melihat dunia luas, mencari partner berkenan di hati. Tak apa lah, nanti kami pergi cari dia esok-esok...
Kitten kecik sudah tidak ada semalam. Serangan virus cirit birit. Kami tak pandai jaganya agaknya... Bungkam, sedih, sesal ... tak tahu nak kata apa...perasaan yang sama selalu...
Kitten kecik sudah tidak ada semalam. Serangan virus cirit birit. Kami tak pandai jaganya agaknya... Bungkam, sedih, sesal ... tak tahu nak kata apa...perasaan yang sama selalu...
Monday, 30 March 2015
Cerita Tanah Tuan Kucing
Lagu Johari Teh
Tanah Sebidang
Hanya dialah sendirian meneruskan usaha
Peninggalan orang tuanya tanpa rasa bosan
Begitu lah tiap hari mengharungi batas dan sawah
Lumpur dan pacat di kaki peluh di dahi menitik ke tanah
Suatu ketika buminya luas tak terhingga
Kini cuma sekangkang kera yang ada padanya
Pusaka yang ada itu untuk bekalan anak cucu
Berhujan berpanas tidak menyalahkan harapan masa depan
Dedaun di pohon berguguran
Air di sungai lesu mengalir
Tanah sebidang jadi rebutan
Sedangkan hidup belum berakhir
Hari kan pulang terus berganti, dia masih gigih
Usia lanjut tidak menghalangi semangat di hati
Tak dihiraukan kesakitan atau cabaran yang mendatang
Hanya satu cita-cita memajukan pusaka yang hilang
Tanah Sebidang
Hanya dialah sendirian meneruskan usaha
Peninggalan orang tuanya tanpa rasa bosan
Begitu lah tiap hari mengharungi batas dan sawah
Lumpur dan pacat di kaki peluh di dahi menitik ke tanah
Suatu ketika buminya luas tak terhingga
Kini cuma sekangkang kera yang ada padanya
Pusaka yang ada itu untuk bekalan anak cucu
Berhujan berpanas tidak menyalahkan harapan masa depan
Dedaun di pohon berguguran
Air di sungai lesu mengalir
Tanah sebidang jadi rebutan
Sedangkan hidup belum berakhir
Hari kan pulang terus berganti, dia masih gigih
Usia lanjut tidak menghalangi semangat di hati
Tak dihiraukan kesakitan atau cabaran yang mendatang
Hanya satu cita-cita memajukan pusaka yang hilang
Subscribe to:
Posts (Atom)





.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)